Saturday, April 12, 2008

Back to my beloved city

Jogja..i'm coming. Last night, i arrived in Adisucipto Airport at 09.00 a clock pm. Ndak butuh waktu yang lama buat nunggu, karena dari dalam ruangan kedatangan sudah kulihat ibuku.
Dengar buru-buru, kutarik travel bag di tangan kananku. Sementara tangan kiriku harus berjuang keras menahan beban dari dua tas kertas yang berisi makanan oleh-oleh.
Meski jarakku semakin mendekat, namun pandangan ibuku sepertinya masih jauh ke belakang. Sampai akhirnya kuberdiri di hadapannya dan semakin jelas terlihat keterkejutannya memandangkau.
"Oh, bener ini anakku?" ujarnya
"Injih Bu," kujawab singkat, lalu melepaskan genggaman di handle travel bag dan menyambar tangan kananya. Kucium tangan itu lalu dia merengkuhku dalam pelukannya.
Tak lama acara penyambutan itu berlangsung. Lalu kami menuju ke tempat parkir karena bapak dan Hadri sudah menunggu di sana. Dan melajulah kami menuju rumah.
Bandara Adisucipto kira sekitar 10 kilometer dari tempatku. Kami
melalui Jalan Raya Solo dan menyusurinya hingga ke Kotabaru.
Tak banyak yang berubah dari kota tercintaku ini. Hanya ada beberapa tempat seperti perhentian kendaraan di sisi kanan dan kiri jalan.
"Itu busway, Mbak," kata Hadri.
Memang sudah lama aku mendengar ada busway di Jogja, tapi baru sekali ini lihat. Jalurnya seperti jalan raya biasa. Hanya dibedakan dengan garis putih di aspal aja. Jadi tak mengherankan kalau di jalur busway itu masih terlihat kendaraan lain seperti mobil, sepeda motor, bahkan sepeda onthel lewat.
Hihihi...ini toh busway di Jogja.
Malam itu langit cerah dan lalu lintas tak terlalu padat. Sekitar setengah jam kemudian, aku sudah tiba di rumah.
Senangnya hatiku.....
Jogja....here i'm....

Sunday, March 02, 2008

MIRLC

siska: hihi
siska: kene kiw mang PLN gila
siska: edun!
siska: kentir
WieK: huss..tenang-tenang
WieK: hehe...
siska: set nesu : mode on
WieK: xixixixi
siska: hihihi
WieK: /me towel fantatz Ncis *tuink*
WieK: jangan gitu ah
siska: wakakkaka
WieK: :P
siska: kumad ikz
siska: heiheiheihei
WieK: lucuuh
siska: /me ngekek dw
siska: /me lari menghindar dan ngumpet di bawa meja
WieK: /me geleng² pala ndiri
WieK: kok malah ngumpet di bawah kibot
siska: /em tau klo it's_me gila
siska: wekekekke
WieK: duduls
siska: eh salah ketik
siska: /me dink
siska: wakkakakak
WieK: dasaaar
siska: hebat yakz mirc
siska: iso gawe imajinasine dewe dadi tersalurkan
siska: terus kadang kick2an karo ketik sg
siska: msg
siska: rasane empet ke nek dikick
siska: didilz
WieK: iyo
siska: hieheiheihe
WieK: jane sek membuat indah ki pas kita berimajinasi yak
siska: nek pas dadi ponder enak iso gawe # meh dibentuk opo
siska: meneh nek duwe bot
siska: iso ngerjain wong
WieK: serasa jadi penguasa
siska: haha

Cuplikan kecil hasil chat bersama teman lama yang dulu kukenal dengan nickname Kriuknyesss. Dan kala itu aku lebih suka memperkenalkan diri dengan nickname Its_Me.
Hum... sebuah dunia virtual yang pasti sangat dikenal oleh para chaters mania. Sebuah dunia dimana seseorang bisa muncul dengan menjadikan dirinya sebagai sosok yang terhebat, tersempurna, dan berbagai ter-, ter- yang lain.
Yah, tentu saja sangat memungkinkan dunia itu bisa muncul.
Ibarat kita membaca sebuah novel dimana pikiran kita bisa berimajinasi menciptakan sosok tokoh dalam cerita sesuai dengan imajinasi kita.
Dan tentu saja, hasilnya adalah sebuah rangkaian cerita yang indah.

Baru-baru ini di berbagai kota sedang booming film yagn diangkat dari novel Ayat-ayat Cinta. Termasuk di kota rantauku kin, Pekanbaru.
Sebuah studio 21 bisa menayangkan film tersebut di hampir semua theater-nya.
Berbagai media massa berlomba-lomba menuliskan seluk beluk film tersebut. Dari resensi buku, sinopsis film, hingga animo masyarakat. Benar-benar fenomenal.
Bahkan seorang temenku, ada loh yang udah download film di komputer. Tapi pas kami rame-rame berencana mo nonton film-nya, ternyata tetep aja dia antusias.
Woloh...woloh...
Tapi memang harus diakui sih, kisah yang diramu dalam novel Ayat-ayat Cinta ini lebih fenomenal dibanding karya sastra seniornya, dari penulis yang sama, Di Atas Sajadah Cinta. Seniornya melaju di layar kaca dalam format sinetron.

Selepas dari berbagai kesuksesan novel ini ternyata ada sebagian orang yang merasa kecewa dengan alur yang muncul di filmnya.
"Gak seru ah, beda banget sama novelnya!"
Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, bilang "Nonton yang bajakannya aja."
Sebuah bentu kekecewaan ketika sesuatu tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Dan kalau kita mau jujur, sulit mendapatkan apa yang kita inginkan melalui orang lain. Atau dengan kata lain tidak ada orang lain yang dapat mengerti sungguh-sungguh apa yang kita mau.
Hanya ada SATU yang mengerti kita. Namun kita pun sulit untuk menjelaskannya secara konkrit apakah itu?! Untuk bisa menggapainya, kita harus masuk ke relung ilahi. Dan untuk berhasil, cara terbaik adalah membuat diri sadar.
Menjadi orang yang SADAR yang sesungguhnya. Menemukan KESADARAN sempurna.
Dan menemuka KESADARAN akan membuat diri semakin tahan dengan kondisi atau apapun yang menimpa...tanpa rasa KECEWA

Friday, February 01, 2008

Tersadar Kembali

Dewi Claudia:
Wi, bentar lagi di Jogja bakal ada busway lho. Jalurnya dah dibikin. Btw nggak terasa ya..bentar lagi udah rabu abu
bip...bip...bip...

Its`me:
Ha?? Yg bener aja. Kemana jalurnya tuh busway? Eh dah mau rabu abu ya? Kapan sih?
bip...bip...bip...

Dewi Claudia:
Cuman dalam kota aja kok. Iyah, tanggal 7 Feb ntar
bip...bip...bip...

Fiuuh..gila.
Apa aja kerjaanku selama ini sampai aku melupakan hari itu. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik terus bergulir tanpa tersadar bahwa waktu terus mendorong hidupku ke lembar-lembaran yang baru. Namun naifnya, tak kusadari dorongan dari sang waktu.

Usai menerima SmS dari teman di Jogja ini, di kegelapan lampu kamarku, tiba-tiba mataku terarah di atas lemari baju. Tepat di sudut bagian atas, yang paling dekat denganku, samar-sama kulihat sebuah sinar berwarna kehijauan lembut. Dan tak butuh waktu lama, langsung saja kukenali sumber sinar itu.

Sebuah kotak berisi untaian butir-butiran Rosario.
Kira-kira sebulan yang lalu ibuku mengirim paket dari Jogja. Berisi legalisir ijazah, transkrip nilai, dan disisipi sebuah Rosario berbahan fosfor dan satu set lilin. Dari untaian butiran fosfor itulah, cahaya hijau keluar dan tertangkap oleh kedua bola mataku. Selain itu, sebuah surat kecil pun turut menyertai kiriman yang dulu, dengan isi: jangan lupa berdoa.

Ough...pikiranku langsung melayang sekitar satu setengah tahun yang lalu Di masa-masa yang menentramkan hatiku. Dimana aku memiliki seseorang yang menjadi jujugan kalo lagi sedih. Seseorang yang mau menemaniku memanjatkan kidung dan pujian, serta bergantian memanjatkan Salam Maria di malam hari Orang yang mengajariku berdoa Rosario sendirian di tengah malam, apalagi ketika hati yang panas terasa butuh siraman kesejukan

Namun sejak jauh darinya, ternyata aku pun juga mulai menjauh dari rutinitas itu. Aku berubah menjadi pemalas yang selalu kalah dengan bangunnya ayam jantan. Bahkan alarm di ponsel yang selalu berdering di pagi hari, justru dimatikan oleh teman sekamarku.
Ah..sungguh parah jalan hidupku sekarang. Sampai-sampai...rabu abu pun tak kusadari kedatangannya

Sepertinya aku harus me-refresh kembali makna Rabu Abu dalam hidupku.
Rabu Abu...adalah hari yang penting. Biasanya pada hari itu, aku menerima abu yang ditorehkan di keningku. Aih...jorok dong (hihi...gitu yah???!!)
Nggak lah, nggak jorok kok.
Trus mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita?

Gini ceritanya...ehemm..ehem... (berdehem ne)
Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum X'tus, abu atau debu telah menjadi tanda pertobatan (dikutip dari http://yesaya.indocell.net). Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yunus 3:6).
Juga ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C:13).
Bapa Pius Parsch, dalam bukunya "The Church's Year of Grace" menyatakan bahwa "Rabu Abu Pertama" terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam atau diakon membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata "Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu."

Hingga sekarang, di jaman modern, keberadaan abu juga menjadi pengingat kita untuk menyadari asal muasal kita. Abu yang digunakan pada Hari Rabu biasanya berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya. Daun palma kering itu dibakar dan hasil pembakaran itulah yang dijadikan jadi abu yang telah diberkati dan menjadi benda sakramentali.

Hari Rabu Abu juga menjadi hari permulaan masa Prapaskah. Masa yang ditempuh selama 40 hari ini adalah masa pertumbuhan jiwa kita. Kadang-kadang jiwa kita mengalami masa-masa kering di mana Tuhan terasa amat jauh. Masa Prapaskah akan mengubah jiwa kita yang kering itu. Masa Prapaskah juga membantu kita untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk seperti mementingkan diri sendiri dan suka marah.

Fiuuh...di-refresh lagi dah
Memanglah...hati dan jiwaku yang tandus ini sudah sangat perlu untuk dibajak kembali.